Rendahnya Literasi Masyarakat Hambat Penetrasi Lembaga Keuangan Syariah

Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai skema bisnis syariah membuat penetrasi lembaga keuangan syariah di Indonesia belum maksimal. 
Leo Dwi Jatmiko | 19 September 2018 08:24 WIB
Pelayanan di salah satu bank syariah. - Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai skema bisnis syariah membuat penetrasi lembaga keuangan syariah di Indonesia belum maksimal. 

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2018, dari total aset lembaga keuangan nasional sebesar Rp10.040 triliun, lembaga keuangan syariah hanya mampu melakukan penetrasi sekitar Rp532 triliun atau 5,29%.
 
Nilai itu berasal dari perbankan syariah senilai Rp433 triliun, lembaga keuangan mikro syariah dan ventura syariah Rp56 triliun, dan asuransi syariah Rp42 triliun.
 
Selain itu, jangkauan jaringan perbankan syariah pun masih sangat terbatas. Sejauh ini, baru 58%  wilayah di Indonesia atau setara dengan 273 dari 497 kota/kabupaten yang mendapat layanan dan jasa perbankan syariah. 
 
Direktur Financing Risk and Recovery Bank Syariah Mandiri Choirul Anwar menerangkan salah satu penyebab lambatnya penetrasi lembaga keuangan syariah adalah belum maksimalnya sosialisasi mengenai dana syariah.
 
Masih banyak masyarakat yang tidak tahu skema bisnis syariah, seiring dengan minimnya jumlah layanan dan jasa perbankan syariah di daerah-daerah.
 
"Kita perlu edukasi lagi soal syariah. Ini tugas," ujarnya, Selasa (18/9/2018).
 
Choirul menambahkan berdasarkan survei literasi dan inklusi yang dilakukan OJK pada 2016, terlihat bahwa literasi masyarakat mengenai keuangan syariah baru 8,11%. Angka ini lebih rendah dibandingkan literasi keuangan nasional yang sebesar 29,66%. 
 
Dia berharap keberadaan Bank Syariah Mandiri di berbagai daerah mampu menjembatani masyarakat dengan pengetahuan mengenai perbankan syariah.

Meski demikian, Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan (Compound Annual Growth Rate/CAGR) perbankan syariah di Indonesia selama delapan tahun terakhir dinilai cukup menjanjikan. 
 
Pada 2011, aset perbankan syariah baru sekitar Rp143 triliun. Pada 2018, CAGR-nya naik 19,6% sehingga menjadi Rp433 triliun. 
 
Kemudian, pembiayaan perbankan syariah pada 2011 masih sebesar Rp103 triliun. Pada 2018, CAGR-nya menunjukkan kenaikan 18,5% sehingga menjadi Rp295 triliun pada 2018.

Pada 2011, Dana Pihak Ketiga (DPK) masih Rp115 triliun. Pada 2018, CAGR-nya tumbuh 19,5% sehingga DPK menjadi Rp341 triliun. 
 
Lalu, ekuitas perbankan syariah masih sebesar Rp11 triliun pada 2018. Namun, pada 2018 CAGR-nya meningkat 18,9% sehingga menjadi Rp36 triliun. 

Tag : syariah, ojk
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top