Bisnis Keuangan Syariah Mulai Pulih

Bisnis keuangan syariah di Indonesia mengalami tekanan yang cukup besar pada 2012-2015, ketika pertumbuhan bank syariah berada di titik terendah tahun lalu yakni 8,8% dibandingkan dengan 9,2% pada bisnis bank konvensional.
Hery Trianto | 27 Oktober 2016 10:42 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, SURABAYA— Bisnis keuangan syariah di Indonesia mengalami tekanan yang cukup besar pada 2012-2015, ketika pertumbuhan bank syariah berada di titik terendah tahun lalu yakni 8,8% dibandingkan dengan 9,2% pada bisnis bank konvensional.

Namun, hingga Juli 2016, pertumbuhan industri perbankan mulai pulih dengan tumbuh 12% y-o-y ketika bisnis bank konvesional hanya 7,2% y-o-y. Pertumbuhan ini tak cukup mendongkrak pangsa pasar perbankan syariah yang stagnan di level 4,8%.

“Pada saat yang sama, perbankan syariah di Indonesia diklaim sebagai bank ritel syariah terbesar di Indonesia dengan 18 juta nasabah dan 4.500 jaringan cabang,” tutur Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, saat membuka seminar internasional Integrating Islamic Commercial and Social Finance to Strengthen Financial System Stability, di Surabaya, Kamis (27/10).

Menurut Agus, sistem keuangan syariah di Indonesia masih didominasi oleh sektor perbankan sebagaimana kencenderungan global. Secara global, sektor perbankan syariah mendominasi 80% pangsa pasar dan sisanya oleh pasar modal syariah dan takaful (asuransi).

Kendati begitu, Agus meyakini perkembangan sistem ekonomi dan keuangan syariah masih menjanjikan. Tiga sektor yakni  perbankan, pasar modal, dan asuransi dapat menjadi  pilar untuk memndukung perkembangan perekoniam syariah.

“Ini karena tiga elemen itu menunjukkan perkembangan yang menjanjikan dalam volume bisnis, produk, dan jaringan distribusi yang makin luas dalam melayani nasabah,” tutur Agus.

Namun, dia juga mengingatkan perkembangan perekonomian syariah tetap harus memperhatikan risiko kinerja perbankan global secara umum. Sama dengan kinerja sektor perbankan syariah, pasar sukuk global juga mengalami tekanan setelah mencapai rekor pertumbuhan pada 2012 pada 2013.

Pada 2014, pasar sukuk turun hingga hanya US$100 miliar dan berlanjut anjlok 43% menjadi sekitar US$60 miliar pada 2015. Di Indonesia, perkembangan sukuk mengalami penurunan untuk sukuk korporasi pada 2009-2014 dan sukuk pemerintah pada 2011-2014.

Namun pada 2015, pasar obligasi syariah mengalami pemulihan  39,4% pada 2015, dan 36,28% pada Juli 2016 untuk sukuk korporasi dan 39,7% pada 2015 dan 36,28% Juli 2016 untuk sukuk pemerintah. 

Tag : perbankan syariah, keuangan syariah
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top