Bank Riau Kepri Spin Off Unit Syariah 2018

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Pembangunan Daerah Riau Kepri menargetkan pemisahan unit usaha syariah atau spin off dapat dieksekusi paling lambat pada awal 2018 mendatang.
Ropesta Sitorus | 18 September 2017 10:43 WIB
Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Riau Kepri (BRK) Irvandi Gustari (kanan), memberikan paparan didampingi Pemimpin Desk Corporate Secretary Winovri, saat berkunjung ke Wisma Bisnis Indonesia, di Jakarta, Kamis (6/4). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Pembangunan Daerah Riau Kepri menargetkan pemisahan unit usaha syariah atau spin off dapat dieksekusi paling lambat pada awal 2018 mendatang.

Direktur Utama Bank Riau Kepri Irvandi Gustari menyatakan pemisahan tersebut didasari tujuan untuk membagi bank dalam dua bagian besar untuk dua provinsi. Provinsi Riau akan dijadikan sebagai pusat untuk Bank Riau Kepri konvensional, sedangkan provinsi Kepulauan Riau (Kepri) akan dijadikan pusat untuk Bank Riau Kepri Syariah.

“Pilihan ini karena kami tidak mau berpisah. Dua provinsi ini tadinya satu sekarang dimekarkan, nah untuk banknya, kami tidak mau ada dua bank. Jalan tengahnya adalah membagi dua bank,” katanya saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Irvandi menuturkan, persiapan untuk aksi spin off tersebut telah berlangsung separuh jalan. Dia mengakui, tidak ada persoalan yang dihadapi, termasuk dari segi permodalan. Seiring dengan itu, pihaknya juga melakukan persiapan dari segi sumber daya manusia untuk meningkatkan kinerja unit usaha syariah.

Sementara itu, Bank Riau Kepri mencatatkan kinerja yang positif dalam paruh pertama tahun ini. Sampai akhir Juni 2017, perseroan membukukan kenaikan laba bersih sebesar Rp223,89 miliar, tumbuh 26,4% secar year on year.

Bank Riau Kepri masih optimistis meraih laba sebesar Rp638 miliar pada akhir 2016 atau tumbuh 41% dari posisi laba akhir Desember 2016 sebesar Rp452 miliar.

“Dengan kondisi perekonomian turun, kredit kami agak turun sedikit, tetapi secara keseluruhan kredit dan dana pihak ketiga masih oke. Kami masih yakin target laba dapat tercapai,” tuturnya.

Seperti halnya bank pembangunan daerah lain, kontributor terbesar penyaluran kredit Bank Riau Kepri adalah sektor konsumer. Akan tetapi, menurut Irvandi, dalam dua tahun terakhir pihaknya juga meningkatkan eksposur kredit UMKM dan komersial.

Mengingat bisnis kelapa sawit yang sempat turun, Bank Riau Kepri banyak melirik sindikasi pembiayaan ke bidang infrastruktur dan proyek pemerintah daerah. Untuk sindikasi, perseroan bergabung dengan perbankan pelat merah.

“UMKM dan komersial akan kami tumbuhkan tahun ini, prosinya akan meningkat cepat karena tahun ini kami utamakan sindikasi kredit ke banyak jalan tol dan proyek kelistrikan bersama BNI, BRI dan Bank Mandiri,” ujarnya.


Dari segi kualitas, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) nett di level 0,15% dan gross sekitar 4,49%. Hingga akhir tahun, rasio NPL diproyeksikan dapat ditekan ke level di bawah 4%

Menurut Irvandi, penyaluran kredit pada kuartal III dan IV 2017 masih menantang karena ekonomi yang memang masih turun di Riau dan Kepri. Bahkan, dia menduga kondisi tersebut masih berlanjut hingga 2018.

“Tahun depan ekonkmi kayaknya belum naik karena daerah kami banyak mengandalkan minyak. Jadi kami tidak mau terpaku di sana dan banyak mencari sindikasi kredit di Jakarta,” kata dia.

Tag : bank riau kepri
Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top