Asuransi Syariah Belum Banyak Diminati. Ini Alasannya

Menjadi negara mayoritas muslim terbesar di dunia tidak lantas menjadikan produk keuangan syariah laris manis di Indonesia.
Reni Lestari | 18 Februari 2018 19:32 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Menjadi negara mayoritas muslim terbesar di dunia tidak lantas menjadikan produk keuangan syariah laris manis di Indonesia.

Nyatanya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru menurunkan proyeksi pertumbuhan aset asuransi syariah, dari realisasi 17% pada 2017 menjadi 15% untuk tahun ini.

Proyeksi kontribusinya pun turun, dari realisasi 2017 sebesar 20% menjadi 17%-18% pada 2018.

Salah satu faktor yang dinilai menjadi pemicu rendahnya penetrasi produk asuransi syariah di Indonesia adalah kurangnya literasi masyarakat terhadap produk ini.

CEO PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia Edy Tuhirman juga punya pandangan lainnya.

Menurutnya, asuransi syariah di Indonesia belum banyak dilirik karena menawarkan fitur yang tidak jauh berbeda dengan konvensional. Hal ini menjadikan asuransi syariah memiliki daya tawar rendah dan akhirnya tak menjadi pilihan.

Edy menganalogikan memilih produk asuransi tersebut seperti menjadi vegetarian.

"Kalau saya jadi vegetarian, saya akan makan murni vegetarian. Bukan vegetarian rasa sapi, rasa kambing, atau ayam. Itu konsep saya, sama halnya dengan asuransi," kata Edy di Jakarta belum lama ini.

Memasarkan produk asuransi yang hanya kemasannya saja syariah, menurut Edy, sama halnya dengan menjadi vegetarian yang tidak konsisten.

Dia pun mengklaim asuransi bertajuk Insurance Protection Linked Auto Navigation (iPlan) Syariah yang baru diluncurkan bulan lalu, adalah murni mengadopsi konsep syariah.

Selain mendapat manfaat asuransi diri dan anggota keluarga, iPlan Syariah juga menyediakan sarana ibadah wakaf dalam satu paket.

"Kita unik banget, kita masuk ke tri-in-one dan konsep wakaf," ujarnya.

Analogi lain yang bisa digunakan untuk menjelaskan pentingnya adopsi konsep syariah murni adalah penggunaan telepon rumah dan handphone. Telepon genggam lebih jamak digunakan belakangan ini karena menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki pesawat telepon biasa.

"Bisa dibayangkan enggak, Anda punya HP, tapi itu hanya bentuk kecil dari telepon yang dirumah? Bedanya, telepon hanya di rumah, ini bisa di bawa-bawa, yang tadinya konvensional, ini syariah, kan sama," ujar Edy.

Menurut data OJK, per Desember 2017 aset asuransi syariah secara nasional mencapai Rp40,52 triliun. Jumlah tersebut tumbuh 18% dibanding periode yang sama 2016 sebesar Rp33,224 triliun.

Sementara itu aset asuransi konvensional 2017 sebesar Rp534,57 triliun, naik 17,6% dari 2016 sebesar Rp628,65 triliun. Selisih aset per Desember 2017 antara syariah dan konvensional sebesar Rp588,13 triliun atau 93,5%.

Deretan angka-angka tersebut tak menjadikan Edy gentar mengembangkan produk syariah miliknya. Ia tetap melihat ada potensi besar pada lini bisnis ini yang belum berhasil dijamah. Terlebih, konsep wakaf berpadu dengan asuransi dinilai bisa menjadi solusi untuk mengatasi ketimpangan ekonomi.

"Kalau semua orang berwakaf, hubungan kita dengan Yang Di atas bagus, ketimpangan juga bisa dikurangi. Jadi ini upaya kita sama-sama, " jelasnya.

Diketahui, iPlan Syariah merupakan produk syariah pertama yang dipasarkan Generali Group, holding perusahaan asuransi asal Italia. Indonesia menjadi proyek percontohan untuk pemasaran produk ini.

Jika dinilai berhasil, bukan tak mungkin Generali Group akan mengadopsi produk serupa di negara-negara lain, khususnya yang masyarakatnya mayoritas muslim. 

 

Tag : asuransi syariah, asuransi
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top