Bagaimana Kelanjutan Wacana Pembentukan Bank Syariah Skala Besar?

Halim Alamsyah menjelaskan sekarang ini kajian terkait pembentukan bank syariah skala besar belum selesai. Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) masih mempertimbangkan akan melakukan merger bank syariah yang sudah eksis atau mendirikan yang baru.
Dini Hariyanti | 22 Februari 2018 17:13 WIB
Karyawan melayani nasabah di kantor cabang Bank Syariah Mandiri di Jakarta, Senin (8/12). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Kajian terkait rencana pemerintah untuk menghadirkan bank syariah skala besar terus berjalan. Sementara itu, kalangan perbankan mengaku belum diajak berembuk terkait wacana tersebut.

Direktur PT Bank BNI Syariah, Dhias Widhiyati mengaku industri perbankan syariah di Tanah Air menunggu kabar selanjutnya dari Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) terkait rencana untuk membentuk bank syariah skala besar. Sejauh ini, imbuhnya, belum ada pembicaraan melibatkan bank.

“Sepertinya untuk wacana merger bank syariah kami tunggu saja kelanjutannya. Saat ini belum ada pembicaraan lebih lanjut melibatkan bank-bank syariah pelat merah,” ungkapnya kepada Bisnis.com, Kamis (22/2/2018).

Pada sisi lain, Wakil Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam, Halim Alamsyah menjelaskan sekarang ini kajian terkait pembentukan bank syariah skala besar belum selesai. Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) masih mempertimbangkan akan melakukan merger bank syariah yang sudah eksis atau mendirikan yang baru.

“Kalau baru perlu biasanya lebih besar dan orang baru, tetapi memang lebih sehat karena tidak ada masalah warisan. Tapi merger, lebih cepat dan orangnya sudah ada dan dananya tidak sebesar bikin baru. Inilah kenapa perlu kajian,” ujar dia.

Menurut Halim, apabila memang arah pemerintah adalah menumbuhkan perekonomian syariah dengan lebih masif memang dibutuhkan bank syariah berskala besar. Tujuannya agar dapat bersaing dengan bank-bank umum konvensional.

Namun diakuinya pula bahwa sukar jika yang dibidik adalan pembentukan bank syariah kategori BUKU 4. Paling tidak yang realistis untuk dikejar KNKS adalah pendirian bank umum syariah berkegiatan usaha (BUKU) 3, yang pasti bukan BUKU 2.

“Karena kalau masih BUKU 2 masih akan terbatas ekspansinya. Jadi saya rasa yang dikerjat BUKU 3. Target ini keputusannya kapan, saya tidak tahun. Masih kajian. Karena ini melanjutkan kajian yang sudah ada di Kementerian BUMN,” ujar Halim.

Belum lama ini yang mencuat adalah kabar rencana penggabungan dua bank syariah, yaitu PT Bank BNI Syariah dan Unit Usaha Syariah PT Bank Tabungan Negara Tbk.

Pelaksana Tugas Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo mengatakan, sejauh ini pihaknya belum mendapat informasi lanjutan mengenai rencana tersebut. "Belum ada informasi lagi. Itu ranahnya di atas [pemerintah], bukan di kami," kata dia.

Direktur BTN Budi Satria menerangkan wacana mengenai merger antara UUS BTN dan BNI Syariah memang ada. Namun, mereka juga masih menunggu kejelasan dari Kementerian BUMN. "Pada prinsipnya kami mengikuti arahan dari Kementerian BUMN,” ujarnya.

Wacana mengenai merger kedua bank ini sebelumnya dilontarkan oleh Kementerian BUMN. Deputi Kementerian BUMN Gatot Trihargo pernah mengatakan bahwa pemerintah ingin punya bank syariah yang kuat dengan modal inti minimal Rp5 triliun sehingga masuk BUKU 3.

Tag : bank syariah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top