Pembiayaan BNI Syariah Naik 16% Pada Agustus 2018

PT Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah telah menyalurkan pembiayaan kepada pihak ketiga senilai Rp26,3 triliun hingga Agustus 2018, atau naik 16% secara tahunan.
Novita Sari Simamora | 18 September 2018 16:09 WIB
Karyawati PT Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah melayani nasabah di Jakarta, Senin (6/3). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, SINGAPURA -- PT Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah telah menyalurkan pembiayaan kepada pihak ketiga senilai Rp26,3 triliun hingga Agustus 2018, atau naik 16% secara tahunan.
 
Sekretaris Perusahaan BNI Syariah Rima Dwi Permatasari mengatakan pembiayaan paling tinggi masih ada pada segmen konsumer, dengan porsi Rp13,6 triliun atau setara 51,6% dari total pembiayaan.

Bila dikalkulasi dengan Hazanah Card (kartu pembiayaan), maka total pembiayaan pada segmen konsumer mencapai Rp14 triliun atau 53,2% daru outstanding pembiayaan. Adapun sisanya disalurkan kepada pembiayaan sektor produktif.

Meskipun pembiayaan yang diberikan ke sektor konsumer cukup tinggi, perseroan mengklaim tetap mendidik nasabah agar tak hidup konsumtif atau menggunakan pembiayaan dari bank sesuai dengan kebutuhan.
 
"Hingga Agustus 2018, pertumbuhan sektor konsumer mencapai 14,6% secara year-on-year (yoy) dan Hazanah Card naik 13,8% yoy," sebutnya, Selasa (18/9/2018).
 
Selain itu, entitas anak dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. ini juga berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) senilai Rp33 triliun hingga Agustus 2018. Angka ini meningkat 21% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
 
Adapun target DPK hingga akhir 2018 adalah sebesar Rp33,2 triliun. Dengan demikian, target DPK hingga akhir tahun telah tercapai.

Menurut Rima, peningkatan DPK yang cukup signifikan biasanya terjadi usai Lebaran. Pasalnya, tren yang terjadi di masyarakat Indonesia adalah kembali menabung usai Idulfitri.

Komposisi DPK BNI Syariah per Agustus 2018 terdiri dari dana murah tabungan dan giro masing-masing senilai Rp14,5 triliun dan Rp3,3 triliun, sedangkan deposito sebesar Rp15,3 triliun. 
 
Di sisi aset, BNI Syariah berhasil membukukan aset senilai Rp38,7 triliun atau tumbuh 19,5% yoy.
 
Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo mengungkapkan perseroan berhasil membukukan pertumbuhan pembiayaan dua digit dan tetap konsisten menjaga kualitas aset.

Adapun Non Performing Financing (NPF) perseroan hingga Agustus 2018 tercatat sebesar 3,04%. Perseroan menyatakan akan menjaganya di kisaran 3% hingga akhir tahun.

Apalagi, di tengah tahun politik dan ketidakpastian global, perseroan harus lebih berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan, khususnya dalam mata uang asing, untuk menghindari tekanan nilai tukar.
 
"Tantangan nilai tukar sedang dihadapi industri perbankan sekarang. Jadi kami harus hati-hati di valuta asing, kami akan hedging," tuturnya.
 
Dari sisi jumlah nasabah, BNI Syariah sudah berhasil menambah sekitar 31.000 akun baru. Dengan demikian, jumlah akun nasabah perseroan hingga Agustus 2018 mencapai 2,6 juta akun.

Tag : bni syariah, kinerja bank
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top